KANG BAYU

Beranda » Info Sekolah » Kuliah » Ilmu Sosial Dasar » Materi ISBD (Kebudayaan)

Materi ISBD (Kebudayaan)

  1. 1.      KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT
  2. Pengantar

Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan soal kebudayaan. Juga dalam kehidupan sehari-hari, orang tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Setiap hari orang melihat, mempergunakan, dan bahkan kadang-kadang merusak kebudayaan. Namun, apakah yang disebut kebudayaan tadi? Apakah masalah tersebut penting bagi penyelidikan terhadap kebudayaan?

            Kebudayaan sebenarnya secara khusus dan lebih teliti dipelajari oleh antropologi budaya. Akan tetapi, walaupun demikian, seseorang yang memperdalam perhatianya terhadap sosiologi sehingga memusatkan perhatiannya terhadap masyarakat, tak dapat menyampingan kebudayaan dengan begitu saja karena didalam kehidupan nyata, keduanya tak dapat dipisahkan dan selamanya merupakan dwitunggal. Sebagai mana telah diuraikan didalam Bab 1 yang berjudul Pendahuluan. Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Walaupun secara teoritis dan untuk kepentingan analitis, kedua persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara terpisah.

            Dua orang antropologi terkemuka yaitu Melville J. Herskovis dan Bronislaw Malinowski, mengemukakan bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super-organic karena kebudayaan yang turun-temurun dari generasi ke generasi tetap hidup terus, walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran. Pengertian kebudayaan meliputi bidang yang luasnya seolah-olah tidak ada batasnya. Dengan demikian, sukar sekali untuk mendapatkan pembatasan pengertian atau definisi yang tegas dan terperinci yang mencakup segala sesuatu yang seharusnya termasuk dalam pengertian tersebut. Dalam pengertian sehari-hari, istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian, terutama  seni suara dan seni tari. Akan tetapi, apabila istilah kebudayaan diartikan menurut ilmu-ilmu sosial, kesenian merupakan salah satu bagian saja dari kebudayaan.

Kata “Kebudayaan” berasal dari (bahasa sansakerta) buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “budhhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal.”

Adapaun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau betani. Dari asal arti tesebut, yaitu colere kemudian culture, diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Seorang antropolog lain, yaitu E.B Taylor (1871), pernah mencoba meberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai berikut (terjemahanya) “kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.”

Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif. Artinya, mancakup segala cara-cara atau pola-pola berfikir, merasakan, dan bertindak. Seseorang yang meneliti kebudayaan tertentu akan sangat tertarik objek-objek kebudayaan seperti rumah, sandang, jembatan, alat-alat komunikasi, dan sebagainya. Seorang sosiolog mau tidak mau harus menaruh perhatian juga pada perilaku sosial, yaitu pola-pola perilaku yang membentuk struktur sosial masyarakat. Jelas bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh peralatan yang dihasilkanya serta ilmu pengetahuan yang dimilikinya atau didapatkanya. Namun, seorang sosiolog lebih menaruh perhatian pada perilaku sosial.

                        Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.

                        Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaidah – kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti luas. Didalamnya termasuk misalnya saja agama, ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Selanjutnya, cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat, dan yang antara lain filsafat serta ilmu pengetahuan. Cipta merupakan, baik yang berwujud teori murni, maupun yang telah disusun untuk langsung diamalkan dalam kehidupan masyarakat. Rasan dan cinta dinamakan pula kebudayaan rohaniah (Spiritual dan immatrial culture). Semua karya, rasa, dan cipta dikuasai oleh karsa orang-orang yang menentukan kegunaanya agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau dengan seluruh masyarakat.

                        Pendapat tersebut di atas dapat saja dipergunakan sebagai pegangan. Namun demikian, apabila dianalisis lebih lanjut, manusia sebenarnya mempunyai segi materil dan segi sprititual didalam kehidupanya. Segi materil mengandung karya, yaitu kemampuan manusia untuk menghasilkan benda-benda maupun lainya yang berwujud benda. Segi spiritual manusia mengandung cipta yang menghsilkan ilmu pengtahuan, karsa yang menghasilkan kaidah kepercayaan, kesusilaan, kesopanan dan hukum serta rasa yang menghasilkan keindahan. Manusia berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan melalui logika, menyerasikan perilaku terhadap kaidah-kaidah melalui etika dan mendapatkan keindahan melalui estetika. Hal itu semuanya merupakan kebudayaan, yang juga dapat dipergunakan sebagai patokan analisis.

Kebudayaan sebagaimana diterangkan diatas dimiliki oleh setiap masyarakat. Perbedaanya terletak pada kebudayaan masyarakat yang satu lebih sempurna daripada kebudayaan masyarakat lain, didalam perkembanganya untuk memenuhi segala keperluan masyarakatnya. Didalam hubungan diatas, biasanya diberikan nama “peradaban” (civili-zation) kepada kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

                        Untuk kepentingan analisis, maka dari sudut struktur dan tingkatan dikenal adanya super-culture yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Suatu super-culture  biasanya dapat dijabarkan ke dalam culutres yang mungkin didasarkan pada kekhususan daerah, golongan etnik, profesi dan seterusnya. Di dalam suatu culture mungkin berkembang lagi kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak bertentangan dengan kebudayaan “induk”, yang lazimnya dinamakan sub-culture . akan tetapi, apabila kebudayaan khusus tadi bertentangan dengan kebudayaan “induk” gejala tersebut disebut counter culture. Visualisasinya secara sistematis adalah sebagai berikut.

SUPER CULTURE

CULTURE (S)

SUB-CULTURE                                                              COUNTER-CULTURE

Counter – culture tidak selalu harus diberi arti negatif karena adanya gejala tersebut dapat dijadikan petunjuk bahwa kebudayaan induk dianggap kurang dapat menyerasikan diri dengan perkembangan kebutuhan. Secara analitis dapat diadakan pembedaan antara penyimpangan dengan penyelewengan, keduanya merupakan counterculture. Kalau ada unsur kebudayaan luar ingin diperkenalkan ke dalam suatu masyarakat, pertama-tama harus dicegah pengualifikasian unsur tersebut sebagai penyelewengan. Oleh karena itu, di dalam memperkenalan unsur kebudayaan yang relatif baru, senantiasa harus ditonjolkan manfaat atau kegunaan riel yang ternyata lebih besar bila dibandingkan dengan unsur kebudayaan lama (adat-istiadat yang telah tertanam).

  1. Unsur-unsur Kebudayaan

                        Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Insonesia dapat dijumpai unsur besar seperti umpamanya Majelis Permusyawaratan Rakyat, disamping adanya unsur-unsur kecil seperti sisir, kancing, baju, peniti, dan lain-lainnya yang dijual dipinggir jalan.

                        Beberapa orang sarjana telah mencoba merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan tadi. Misalnya, Melville J. Herskovis mengajukan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu :

  1. Alat-alat teknologi
  2. Sistem ekonomi
  3. Keluarga
  4. Kekuasaan politik

Bronislaw Malinowski, yang terkenal sebagai salah seorang pelopor teori fungsional dalam antropologi, menyambut unsur-unsur pokok kebudayaan, antara lain:

  1. Sistem norma yang memungkinkan kerjasama anatara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alam sekelilingnya.
  2. Organisasi ekonomi.
  3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan, perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama.
  4. Organisasi kekuatan.

Masing-masing unsur tersebut, beberapa macam unsur-unsur kebudayaan, untuk kepentingan ilmiah dan analisisnya diklarifikasikan kedalam unsur-unsur pokok atau besar kebudayaan, lazim disebut cultural universal. Istilah ini menunjukan bahwa unsur-unsur tersebut secara lebih mendalam belum mempunyai pandangan seragam yang dapat diterima. Antropolog C. Kluckhohn di dalam sebuah didalam sebuah karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture telah menguraikan ulasan para sarjana mengenai hal itu.

            Tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universal, yaitu :

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transpor dan sebagainya).
  2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya)
  3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
  4. Bahasa (lisan maupun tertulis)
  5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya)
  6. Sistem pengetahuan
  7. Religi (sistem kepercayaan)

            Cultural Univesal tersebut di atas dapat di jabarkan lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Ralph Linton menyebutnya kegiatan-kegiatan kebudayaan atau cultura activity. Sebagai contoh, cultural universal pencaharian hidup dan ekonomi, antara lain mencakup kegiatan-kegiatan seperti pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan lain-lain. Kesenian misalnya meliputi kegiatan-kegiatan kebudayaan tersebut menjadi unsur-unsur yang lebih kecil lagi yang disebut trait-complex.

  1. Fungsi kebudayaan bagi Masyarakat

            Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggotanya seperti kekuatan alam, maupun kekuatan lainnya di dalam masyarakat tidak selalu baik baginya. Selain itu manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan dibidang spiritual dan materil. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut di atas untuk sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyaarakat itu sendiri. Dikatakan sebagian besar karena kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan kebudayaan yang merupakan hasil ciptaaanya juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan.

Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebdayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu :

  1. Alat-alat produktif
  2. Senjata
  3. Wadah
  4. Makanan dan minuman
  5. Pakaian dan perhiasan
  6. Tempat berlindung dan perumahan
  7. Alat-alat transpor

      Dalam tindakan-tindakanya untuk melindungi diri terhadap lingkungan alam, pada taraf permulaan, manusia bersikap menyerah dan semata-mata bertindak di dalam batas-batas untuk melindungi dirinya. Taraf tersebut masih banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang hingga kini masih rendah tarap kebudayaanya. Misalnya suku bangsa terhadap lingkungan alamnya. Rata-rata mereka itu masih merupakan masyarakat yang belum mempunyai tempat tinggal tetap karena persediaan bahan pangan semata-mata tergantung dari lingkungan alam. Taraf teknologi mereka belum mencapai tingkatan dimana kepada manusia diberikan kemungkinan-kemungkinan untuk memanfaatkan dan menguasai lingkungan alamnya.

      Keadaanya berlainan dengan masyarakat yang sudah komplek, yang taraf kebudayaanya lebih tinggi. Hasil karya manusia tersebut, yaitu teknologi, memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfataatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin, menguasai. Perkembanga teknologi di negara-negara besar seperti Amerika serikat, rusia, Prancis, Jerman dan sebagainya, merupakan beberapa contoh di mana masyarakat tidak lagi pasif manghadapi tantangan alam sekitar.

      Kersa masyarakat mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Karsa merupakan daya dan upaya manusia untuk melindungi diri terhadap kekuatan-kekuatan yang buruk, manusia terpakasa melindungi diri denga cara menciptakan kaidah-kaidah yang pada hakikatnya merupakan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berlaku didalam pergaulan hidup.

              Menurut Ferdinand Tonnies, kebiasaan mempunyai tiga arti, yaitu sebagai berikut:

  1. Kebiasaan dalam arti yang menunjuk pada suatu kenyataan yang bersifat objektif. Misalnya, kebiasaan untuk bangun pagi.
  2. Kebiasaan dalam arti kebiasaan tersebut dijadikan kaidah bagi seseorang yang diciptakannya untuk dirinya sendiri.
  3. Kebiasaan dalam arti sebagai perwujudan kemauan atau keinginan seseorang untuk berbuat sesuatu.

Jadi, kebiasaan tersebut menunjukan pada suatu gejala bahwa seseorang d dalam tindakan-tindakanya selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur baginya. Kebiasaan-kebiasaan yag baik akan diakui serta dilakukan pula baginya. Kebiasaan-kebiasaan yang baik akan diakui serta dilakukan pula oleh orang-orang lain yang semasyarakat.

          Disamping adat istiadat, kaidah-kaidah yang dinamakan peraturan(hukum), yang biasanya sengaja dibuat dan mempunyai sanksi tegas. Peraturan bertujuan membawa suatu keserasian dan memperhatikan hal-hal yang bersangkut paut dengan keadaan lahiriah maupaun batiniah manusia. Peraturan (hukum) dibuat oleh negara atau badan-badan negara yang diberi wewenang, seperti MPR, DPR, Pemerintah, dan lain sebagaiya.

          Didalam setiap masyarakat terdapat pola-pola perilaku atau patterns of behavior. Pola-pola perilaku merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut. Setiap tindakan manusia selalu mengikuti pola-pola perilaku masyarakat tadi.

Unsur Normatif yang merupakan bagia dari kebudayaan adalah :

  1. Unsur-unsur yang menyangkut penilaian Misalnya apa yang baik dan buruk.
  2. Unsur-unsur yang berhubungan dengan apa yang seharusnya sepert bagaimana orang harus berlaku
  3. Unsur yang menyangkut kepercayaan seperti misalnya harus mengadakan upacara adat pada  saat lahiran.

    Kaidah-kaidah kebudayaan berarti peraturan tentang tingkah laku atau tindakan yang harus dilakukan dalam suatu keadaan tertentu. Dengan demikian, kaidah sebagai bahan kebudayaan mencakup tujuan kebudayaan, maupun cara-cara yang dianggap baik untuk mencapai tujuan tersebut. Kaidah-kaidah kebudayaan mencakup bidang yang luas sekali. Akan tetapi, untuk kepentingan penelitian masyarakat, secara sosiolgis dapat dibatasi pada empat hal, yaitu:

  1. Kaidah-kaidah yang dipergunakan secara luas dalam suatu kelompok manusia tertentu
  2. Kekuasaan yang memperlakukan kaidah-kaidah tersebut
  3. Unsur-unsur formal kaidah
  4. Hubunganya dengan ketentuan-ketentuan hidup lainnya.

4. Sifat Hakikat Kebudayaan

               Walaupun setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang saling berbeda satu dengan lainnya, setiap kebudayaan mempunyai sifat hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan dimanapun berada.

Sifat-sifat hakikat kebudayaan tadi adalah sebagai berikut.

  1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia
    1. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisanya usia generasi yang bersangkutan
    2. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah laku lainya
    3. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.

          Sifat hakikat kebudayaan adalah ciri setiap kebudayaan, tetapi bila seeorang hendak memahami sifat hakikatnya yang esensial, terlebih dahulu harus memecahkan pertentangan-pertentangan yang ada didalamnya, yaitu sebagai berikut.

  1. Di dalam pengalaman manusia, kebudayaan bersifat Universal. Akan tetapi, perwujudan kebudayaan mempunyai ciri-ciri khusus yang sesuai dengan situasi maupun lokasinya.
  2. Kebudayaan bersifat stabil disamping juga dinamis dan setiap kebudayaan mengalami perubahan-perubahan yang kontinu. Setiap kebudayaan pasti mengalami perubahan atau perkembangan-perkembangan.
  3. Kebudayaan mengisi serta menntukan jalanya kehidupan manusia, walapun hal itu jarang disadari oleh manusia itu sendiri. Gejala tersebut secara singkat dapat diterangkan dengan penjelasan bahwa walaupun kebudayaan merupakan atribut manusia. Namun, tak mungkin seseorang mengetahui dan menyakini seluruh unsur kebudayaannya.

5. Kepribadian dan Kebudayaan

          Sebagaimana diuraikan dalam bab terdahulu, pengertian masyarakat menunjuk pada sejumlah manusia, sedangkan pengertuan kebudayaan menunjuk pada pola-pola perilaku yang khas dari masyarakat tersebut. Masyarakat dan kebudayaan sebenarnya merupakan perwujudan atau abstraksi perilaku manusia. Kepribadian menunjukan perilaku manusia, perilaku manusia dapat dibedakan  dengan kepribadianya karena kepribadian meruapak latar belakang perilaku yang ada dalam diri seorang individu. Kekuatan kepribadian bukanlah terletak pada jawaban atau tanggapan manusia terhadap suatu keadaan, akan tetapi justru pada kesiapannya di dalam memberikan jawab dan tanggapan.

          Jawaba dan tanggapan merupakan perilaku seseorang. Sebagai misal, apabila seorang hasu menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara dua orang. Keinginannya untuk menyelesaikan perselisihan, keingainan untuk tidak mengacuhkan ataupun keinginan mempertajam perselisihan tersebut, merupakan kepribadianya, sedangkan tindakanya dalam mewujudkan keinginan tersebut merupakan perilakunya.

          Sebenarnya kepribadian merupakan organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan sifat lain yang khas dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. Seorang sosiolog terutama akan menaruh perhatianya pada perwujudan perilaku individu yang nyata pada waktu tertentu.

Faktor-faktor biologis dapat mempengaruhi  kepribadian secara langsung. Misalnya, seorang yang mempunyai badan yang lemah (secara fisik) dapat mempunyai sifat rendah diri yang besar. Beberapa faktor biologis yang logis adalah misalnya sistem, syaraf, watal seksual, proses pendewasaan dan juga kelainan-kelainan biologis.

          Mungkin sebagian tadi dapat digambarkan dengan istilah kebudayaan khusus atau sub-culture. Untuk membatasi diri pada hal-hal yang penting, uraian di bawah ini akan dikaitkan pada tipe-tipe kebudayaan khusus yang nyata memengaruhi bentuk kpribadian, yakni sebagai berikut :

1. kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan

2. Cara hidup dikota dan didesa yang berbeda (urban dan rural ways of life) cobalah ambil contoh perbedaan antara seorang anak yang dibesarkan di kota dengan di desa.

3. kebudayaan khusus kelas sosial

4. kebudayaan khusus atas dasar agama

5. kebudayaan berdasarkan profesi

                      Dari beberapa kenyataan diatas, dapatlah di ambil kesimpulan berapa besar pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian. Akan tetapi, dalam perkembangan pembentukan kepribadian tersebut tidak hanya kebudayaan yang memainkan peranan pokok. Organisme biologis seseorang, lingkungan alam dan sosialnya juga memberi arah. Inti kebudayaan setiap masyarakat adalah sistem nilai yang dianut oleh masyarakat pendukung kebudayaan bersangkutan. Sistem nilai tersebut mencakup konsepsi-konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap buruk seingga harus selalu dianuti. Dengan demikian, dikenal perbedaaan antara nilai-nilai yang positif dengan nilai yang negatif.

          Karena sistem nilai tersebut bersifat abstrak (bahkan sangat abstrak), maka perlu diketengahkan beberapa indikator nilai-nilai, yaitu:

  1. Konsep mengenai hakikat  hidup
  2. Konsep mengenai hakikat karya
  3. Konsep mengenai hakikat waktu
  4. Konsep mengenai hakikat lingkungan alam
  5. Konsep mengenai hakikat lingkungan sosial.

6. Gerak Kebudayaan

          Seorang sosiolog dalam mempelajari kebudayaan sebagai hasil masyarakat, tidak akan membatasi diri pada struktur kebudayaan tersebut yaitu unsur-unsur yang statis, tetapi perhatianya juga dicurahkan pada gerak kebudayaan tersebut. Dalam uraian-uraian yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi sebab dia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, karena terjadinya hubungan antar kelompok manusia didalam masyarakat.

Akulturasi terjadi bila suatu kelompok manusia dengan satu kebudayaan yang tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur-unsur suatu kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

  1. Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah :

a. unsur kebudayaan kebendaan seperti alat yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan bermanfaat bagi masyarakat.

b. unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai mass-media

c. unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tertentu.

  1. Unsur-unsur kebudayaan  yang sulit diterima oleh sesuatu masyarakat misalnya:

a. unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain.

b. unsur yang mempelajari pada taraf pertama proses sosialisasi.

  1. Pada umunya generasi muda dianggap sebagai individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing. Sebaliknya generasi tua di anggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur-unsur baru.
  2. Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi selalu ada kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

Proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan demikian unsur-unsur kebudayaa asing tidak lagi dirasakan sebagai hal yang berasal dari luar, tetapi dianggap sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri. Akan tetapi, sudah disesuaikan serta diolah sedemikian rupa sehingga merupakan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Namun, tidak mustahil timbul kegoncangan kebudayaan (cultural shock), sebagai akibat  masalah-masalah yang dijumpai dalam proses akulturasi. Kegoncangan kebudayan terjadi apabila warga masyarakat mengalami distoleransi dan frustasi, dimana muncul perbedaan yang tajam antara cita-cita dengan kenyataan yang disertai dengan terjadinya perpecahan didalam masyarakat tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Big DayMaret 5th, 2012
The big day is here.
%d blogger menyukai ini: